Sejarah Pura Lempuyang Luhur di Bali

0
778
Pura Lempuyang
Pura Lempuyang (Sumber : http://baliregaltours.com/wp-content/uploads/2015/08/lempuyang.jpg)

Pura Lempuyang sudah tidak asing lagi bagi anda yang tinggal di sekitar Bali. Pura Lempuyang sendiri terletak pada Bukit Bisbis, Gunung Lempuyang – Kurangasem. Pura yang satu ini ternyata memiliki nilai sejarah besar yang perlu anda ketahui.

Pura Lempuyang diyakini keberadaannya merupakan salah satu dari pura tertua di Bali. Pura ini diprakirakan sudah ada sejak zaman pra- Hindu-Budha. Salah satu buku terbitan Dinas Kebudayaan Bali, yakni “Lempuyang Luhur” (1998) menyatakan bahwa lempuyang berasal dari kata “lampau dan hyang“. Kata lampau diartikan sebagai Sinar, sedangkan kata hyang digunakan untuk menyebut Tuhan (misal, penyebutan dalam Hyang Widhi). Jadi secara keseluruhan kata Lempuyang berartikan sinar suci Tuhan yang sangat terang (menyorot / mencorong).

Pura Lempuyang
Pura Lempuyang (Sumber : www.kura2guide.com)

Dalam versi lain juga menyebutkan bahwa kata lempuyang merupakan nama yang diambil dari sejenis tanaman yang biasa dipaki untuk bumbu masak. Namun ada juga yang menyatakan bahwa kata lempuyang berasal dari kata “empu” atau “emong” yang berarti menjaga. Kata tersebut bisa saja selaras, karena menurut sejarahnya Bhatara Hyang Pasupti telah mengutus tiga putranya untuk turun mengemong demi menjaga kestabilan Bali dari mala bahaya bencana alam.

Pura Lempuyang memiliki status yang tidak kalah penting seperti pada Pura Besaikh. Dalam beberapa sumber lontar / prasasti kuno, ada 3 pura besar yang sering disebut selain pura Ulun Danu Batur dan pura Besaikh yakni pura Lempuyang. Dalam lontar itu juga disebutkan bahwa Sang Parameswara menugaskan putranya Sang Hyang Agnijayasakti turun ke Bali dan menjaga kesejahteraan Bali dan beliau ber-stana di Gunung Lempuyang bersama dengan dewa-dewa lainnya.

Sejarah besar lain terjadi pada tahun 1950 dimana tahun tersebut baru ada tumpukan batu dan sanggar agung yang dibuat dari pohon hidup. Disekitar bagian timur terdapat sebuah pohon sidhakarya besar, namun sayangnya kini sudah tidak ada lagi. Diduga pohon tersebut tumbang dengan sendirinya / mati perlahan tanpa adanya generasi baru pengganti. Kemudian pada kisaran tahun 1960 didirikanlah dua padma kembar dan juga sebuah padma tunggal bale piyasan.

Baca juga:  Makna Canang Sari Dan Jenisnya Menurut Hindu
Pura Lempuyang
Pura Lempuyang (Sumber : http://baliregaltours.com/wp-content/uploads/2015/08/lempuyang.jpg)

Jero Mangku Gede Wangi menyampaikan, di Pura Lempuyang Luhur terdapat tirta pingit di pohon bambu yang tumbuh pada areal Pura Luhur. Saat umat nunas tirta, pemangku pura usai ngaturang panguning akan memotong sebuah pohon bambu. Air suci/tirta dari pohon bambu itu di-pundut untuk muput berbagai upacara, kecuali manusa yadnya. ”Siapa pun tak boleh berbuat buruk seperti campah di pura, jika tak ingin kena marabahaya,” ujar Jero Mangku.

Dikutip melalui sejumlah sumber kuno ; Jero Mangku Gede Wangi, pemangku di pura itu mengatakan bahwa,

“Orang Bali apapun wangsanya tak boleh melupakan pura ini. Paling tidak sekali waktu menyempatkan diri tangkil sembahyang ke pura ini. Sebab, jika tidak pernah atau lupa memuja Tuhan yang manifestasinya berstana di pura ini, selama hidup bisa  tak pernah menemukan kebahagiaan, seringkali cekcok dengan keluarga atau dengan masyarakat dan bahkan pendek umur.”

Kewajiban masyarakat Bali untuk memuja Batara Hyang Gni Jaya di Lempuyang Luhur bersumberkan  dalam bhisama Hyang Gni Jaya yang tertulis dalam lontar Brahmanda Purana sebagai berikut:

Wastu kita wong Bali, yan kita lali ring kahyangan, tan bakti kita ngedasa temuang sapisan, ring kahyangan ira Hyang Agni Jaya, moga-moga kita tan dadi jadma, wastu kita ping tiga kena saupa drawa

Dibalik sejarah besar pada Pura Lempuyang tersebut, ada pula beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar saat hendak menaiki pura lempuyang luhur tersebut. Apabila dilanggar, nantinya akan memunculkan dampak buruk. Pantangan tersebut berisikan:

  • Sejak awal, pikiran, perkataan, dan perbuatan harus disucikan
  • Tidak boleh berkata kasar saat perjalanan
  • Orang cuntaka, wanita haid, menyusui, anak yang belum tanggal gigi susu sebaiknya jangan dulu masuk pura atau sembahyang ke pura
  • Tidak boleh membawa perhiasan emas, karena kerap kali jika membawa perhiasan emas akan hilang secara misterius
  • Membawa makanan atau makan daging babi saat ke Pura Lempuyang, karena daging babi terbilang cemer
Baca juga:  Rumah Pohon: Sensasi Gunung dan Laut Dalam 1 Tempat

Begitulah kiranya beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan saat hendak menaiki pura lempuyang. Ternyata pura lempuyang memiliki sejarah yang besar dan menarik. Sebagai umat Hindu, Bali sepantasnya kita tidak melupakan pura lempuyang yang bersejarah ini. Ada baiknya pula agar kita menyempatkan sesekali untuk tangkil ke pura tersebut. Dan hal terpeting lainnya, anda harus ingat dan memahami pantangan-pantangan yang berlaku.

Demikianlah artikel mengenai penjelasan singkat dari sejarah Pura Lempuyang, Bali. Semoga informasi tersebut bermanfaat bagi anda dan kita semua.

Sumber : http://inputbali.com/sejarah-bali/sejarah-pura-lempuyang-luhur-bali

NO COMMENTS